Simalakama Dunia Disc Jockey

Sabtu, 25 Maret 2017 00:06 WIB

Simalakama Dunia Disc Jockey
(HARIAN NASIONAL | YOSEP ARKIAN) Nuansa baru diyakini menjadi penggebrak musik elektronik. 

Dentuman bas mendominasi house music di ruangan sekitar 2 x 1 meter persegi sore itu. Saat itu, Jesyca Bahar tengah berlatih di RDJ Indonesia, di bilangan Jakarta Selatan.

Mantan pramugari perusahaan penerbangan swasta terbesar di Tanah Air itu terus mengasah kemampuan sebagai disc jockey (DJ). “Aku juga suka aliran musik trance yang lagi banyak digemari orang,” kata Jesy ditemui HARIAN NASIONAL, Rabu (22/3).

Jesy lalu memasukkan dua keping CD ke compact disc jockey (CDJ). Musik yang awalnya keras menggetarkan gendang telinga, berubah lebih cepat diiringi efek melodi piano. Dia menyebut, salah seorang artis yang memainkan trance adalah Armin Van Buuren dari Belanda. “Kalau ini juga asik, ini namanya trance. Musiknya agak romantis,” ujar dia.

Untuk mix lagu dibutuhkan CDJ yang terletak di kanan dan kiri. Di CDJ juga terdapat semacam piringan yang berfungsi mengatur ritme. Selain itu seorang DJ membutuhkan mixer yang berfungsi menyatukan dua lagu agar seirama. Tanpa mixer proses mixing tidak akan sempurna. Mixer berfungsi pula mengatur volume dan efek-efek suara yang tengah dimainkan. Komponen yang tidak kalah penting adalah headphone untuk speed hunting agar proses mixing termonitor dan tidak ditemukan kesalahan dalam pemutaran lagu.

Belajar menjadi DJ perlu kepekaan telinga dan insting menyatukan lagu agar seirama. Seorang DJ dituntut berkonsentrasi agar dua lagu yang digabung tidak berantakan. Aturan lainnya, saat perpindahan satu lagu ke lagu berikutnya seorang DJ tidak boleh terhenti sedetik pun. “Jadi harus nyambung. Nah teknik menyambung lagu ini agak sulit. Tidak boleh terputus walau sebentar saja,” katanya. Jesy mengaku cukup lama berlatih yaitu sekitar setahun lalu. Bagi dia, DJ hanya dinikmati sebagai media hiburan dan rilaksasi.

Pengalaman Esa Fadly agak berbeda. Siswa kelas 11 SMA  58 Jakarta itu mengaku sudah lama menyukai dunia DJ. Meyakinkan kedua orangtuanya tak semudah membalik telapak tangan. “Mereka khawatir soal stigma DJ yang sarat dunia malam,” kata dia. Cara jitu meyakinkan kedua orangtuanya, membuat komitmen yang jelas. Sebagai pelajar, ia ingin menunjukkan tangung jawab. Sedangkan sebagai DJ, ia juga berjanji tidak terjerumus hal-hal negatif yang selama ini ditakutkan. “Bukan hanya di mulut, saya harus buktikan karena ini modal kepercayaan.”

Punya cita-cita membuat karya sendiri berupa lagu, Esa adalah salah seorang siswa RDJ yang telah lulus dan mendapatkan sertifikat. Saat ini dia berada di level advance. Segala teknik basic DJ sudah ia kuasai. Mengaku terpengaruh salah seorang DJ berkebangsaan Belanda Martin Garrix, dia berambisi menjadi DJ profesional. Namun, untuk sementara dia fokus membuat lagu karya sendiri. “Punya sih keinginan main sebagai pro tapi yang terpenting saat ini saya  fokus untuk skill,” katanya.

Pelatih di RDJ Indonesia Febrian atau biasa disapa DJ Bjan menaruh harapan besar anak didiknya menjadi DJ andal. Lelaki yang sejak 2008 menggeluti dunia DJ itu mengatakan, sedikitnya 320 siswa pernah belajar di RDJ, namun hanya 25 persen yang berhasil menyelesaikan materi. “Sebanyak 15 persen sudah jadi DJ profesional yang banyak main di berbagai acara dan club,” ujar dia.

Menurut DJ Bjan, RDJ tak terlalu fokus pada kompetisi, melainkan dunia pekerjaan. “Talent akan kami fasilitasi kalau ada event atau club yang mencari,” katanya. Dia mengatakan, di RDJ, dalam dua bulan siswa sudah bisa menguasai teknik dasar. Dengan biaya Rp 4 juta, siswa akan mendapatkan sertifikat kelulusan sebagai DJ. “Di ujian akhir biasanya mereka kami uji dengan melakukan pertunjukan di depan khalayak agar mental mereka terbangun dan jam terbang bertambah.”

RDJ memiliki empat studio yang bisa digunakan untuk berlatih, lengkap dengan fasilitas trainers dan peralatan DJ. RDJ yang digagas DJ Vendart Aryadi itu juga menyewakan peralatan. DJ Bjan pun berusaha menjadikan RDJ sebagai rumah bagi para DJ baik yang belajar di tempat itu atau tempat lain. “Suasana seperti ini ingin kami ciptakan sesuai keinginan DJ Vendart sebagai konseptor,” ujar dia.

Perkembangan dunia DJ di Tanah Air semakin pesat. RDJ bahkan memiliki anak didik siswa SMP. “Kalau sekitar 10 tahunan lalu, biasanya usia 20 tahunan ke atas yang ikut,” katanya. Pesatnya industri musik menjadi salah satu pemicu sehingga DJ bisa disamaratakan dengan pelaku seni lainnya.

Orangtua pun kini mulai memandang DJ tidak secara negatif karena terkait dunia malam, karena mereka sering diundang ke pesta pernikahan, ulang tahun, gathering, atau acara musik sekolah. Stigma negatif beranjak menurun sejak industri DJ maju. “Orangtua mulai bisa menerima anaknya menjadi DJ,” ujar dia. Dia memberikan contoh, salah satu mata acara musik yang menggabungkan musik pop dengan DJ di salah satu televisi swasta. “Itu salah stu bukti, DJ bukan soal dunia malam.”

Namun, kata DJ Bjan, menjamurnya DJ menjadi simalakama. Semakin banyak talent, semakin banyak pula DJ tersingkir. Menurut dia, semakin kuat karakter, semakin sering DJ menjadi sorotan event organizer. Bahkan, sekali pun tak memiliki karya dalam bentuk lagu. “Yang perempuan, biasanya lebih cepat terkenal,” kata dia. Soal pendapatan, dulu seorang DJ berpengalaman bisa Rp 2 juta sampai Rp 3,5 juta sekali tampil. Namun persaingan semakin ketat, kini seorang DJ dibayar Rp 1,2 juta sekali tampil. DJ Bjan mengatakan, kini kelab cenderung tidak berani memberikan bayaran lebih dari itu.

Dari segi kualitas musik, ia berharap DJ mampu semakin diterima di masyarakat. Sebab, saat ini  tidak ada pembeda dari sisi kualitas musik. Masalah itu juga terjadi di dunia musik seperti saat aliran pop melayu mendominasi atau boyband dan girlband merebak.  “Kalau lagi musim genre A, semua main A. Kalau lagi banyak yang main genre B, semua beralih ke B. Itu membuat jenuh. Saya harap ada penerus DJ Dimas Angger. Kalau bisa, melambung namanya di kancah dunia,” ujarnya.

DJ Dian Sinar Handono atau biasa disapa DJ Dudut mengamini, dunia DJ mengalami pergeseran sejak 10 tahun terakhir yang dibuktikan dengan usia peminat bervariasi mulai 8 tahun hingga 60 tahun. Mereka yang berkarier sebagai pilot, dokter, dan sebagainya juga menggandrungi. “Ini membuktikan, DJ diterima di banyak kalangan,” kata pengajar di Metronom DJ School, Jakarta itu. Sekadar hobi, gaya hidup, prestis, sampai profesi, jadi alasan mereka. Dia berharap, dunia DJ maju lebih pesat.

DJ Dylan Amirio berpendapat, tren DJ di Tanah Air cenderung terlambat meskipun telah mengalami banyak perubahan. Dia sependapat, tidak banyak variasi dalam musik elektronik. Di sisi lain, dia melihat, sebagian masyarakat masih sulit menerima musik eksperimental. Dia berharap, ada nuansa baru yang mampu menggerbrak dan semakin menyemarakkan musik elektronik di Indonesia.


Reportase : Tegar Rizqon Alfian

Editor : Admin

http://www.harnas.co/2017/03/24/simalakama-dunia-disc-jockey

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *